Jumat, 29 Juni 2012

KETIKA SYARI'AT BERBICARA


Kutahu rindu menyeruak di hati bersebab lama tak bersua 
kutahu rindu telah bersemayam bersebab kenangan telah terbungkus rapi 
Kutahu betapa perihnya memendam rindu pun hati menjadi gelisah karenanya 

Namun ketahuilah ada yang lebih perih dari memendam rindu 
sadarilah bahwa tiada yang lebih perih dari melanggar yang haq. 

Ya!

Ketika syari'at berbicara tentang rindu 
ketika itu pula kutahu bahwa kita telah melanggar yang haq
lalu masih pantaskah kita berbicara tentang rindu???

Ketika syari'at berbicara 
maka biarkanlah hati terluka, sebab luka itu takkan lama
namun jangan biarkan hati menjadi gelap selamanya sebab melanggar yang haq

Ketika syari'at berbicara
Tak kubiarkan rindu melabuh di sembarang tempat 
sebab rindu telah memiliki pelabuhannya sendiri
dan tiada pelabuhan yang lebih indah selain pelabuhanNya

Ketika syari'at berbiara 
Maka segera kuhapus namamu dari hati 
sebab aku takut akan murkaNya 

Ketika syari'at berbicara 
Maka kuserahkan segala resah padaNya
sebab hanya padaNya aku bertawakal 

Ketika syari'at berbicara.....
Maka izinkan aku menutup cerita tentangmu 
dan biarkan takdir menjemput segala asa





Sabtu, 16 Juni 2012

MENYELAMI MAKNA HIDUP SESUNGGUHNYA




            Kian hari kian banyak saja orang yang mengeluh tentang peliknya hidup ini.  Tak jarang pula kita menyaksikan sebagian besar dari kita merasakan bosan dan jenuh dalam mengarungi hidup ini. Dan salahsatu penyebab dari persoalan di atas adalah banyaknya permasalahan yang kita hadapi dalam hidup ini. Mulai dari masalah ekomoni, pendidikan, musibah, serta permasalahan tingginya harga sembako, dan lain sebagainya.

            Tetapi jika kita telaah lebih dalam lagi, maka penyebab kejenuhan dan keluhan kita tentang hidup ini adalah dikarenakan kurangnya pemahaman kita tentang tujuan Allah menciptakan kita. Sehingga rasa syukur tak dapat hadir di hati kita. Persoalan inilah yang akhirnya membuat kita gelisah karena sedikit sekali di antara kita yang menyadarinya.

Tujuan Allah Ta’ala Menciptakan Manusia

“Tidaklah Ku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS: Az-Zariyat:56)

Singkat tetapi tegas dan jelas sekali ayat di atas. Dan tahulah kita  sekarang bahwa tujuan dari kehidupan ini tak lain adalah untuk  beribadah kepada Tuhan yang telah menciptakan kita yakni Allah SWT. Dengan kata lain, ayat ini menuntut kita untuk terus melakukan kebaikan di muka bumi ini.

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.” Demkian perintah Allah SWT dalam Surah Al Hajj ayat 77.

Perkara penting yang harus kita ketahui setelah  mengetahui tujuan dari hidup ini adalah menyadari bahwa hidup tidak akan luput dari ujian dan permasalahan. Sebab Allah Ta’ala berfirman “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” ingatlah bahwa pertolongan Allah itu dekat.” (QS:2:214)

Al-Qur’an, sebaik-baik pedoman dan solusi segala persoalan hidup

            Betapa Maha Bijaksananya Allah SWT yang telah menciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk. Allah yang memberikan kita ujian sebagai wasilah kita menuju keridhoanNya, Allah pula yang menyediakan pedoman pada kita agar kita tidak tersesat dalam melangkah. Yakni Al-Qur’anul Karim. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala “(Al- Qur’an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS: Jaasiyah:20)

            Contoh, ketika kita merasa kesulitan dari segi ekonomi, maka Al-Qur’an mengingatkan kita “… siapakah yang memberi rezeqi kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab “Allah” Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa?’” (QS:Yunus:31)

            Ketika kegelisahan bersemayam dalam hati kita, Al-Qur’an memberikan solusi pada kita “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS:Ar-Ra’d:28)

            Ketika sepasang suami istri cemas karena belum juga dikaruniai anak, maka ingatlah kisah Ibrahim ‘Alaihissalam yang mendapatkan anak di usia tua kemudian berkata “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Isma’il dan Ishaq. Sungguh, Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.

            Dan ketika musibah dan ujian tak henti-henti menimpa kita, maka ingatlah bahwa Allah SWT telah berulang kali menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa hidup adalah ujian.

 “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS:2:155)

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa Al-Qur’an telah begitu sempurna memberikan solusi dari segala jenis permasalahan yang kita temui dalam hidup ini. Tetapi yang menjadi pertanyaan sudahkah kita kembalikan setiap permasalahan kita kepada Al-Qur’an?

Jadi jelaslah sekarang bahwa makna hidup sesungguhnya adalah mensyukuri setiap hal yang terjadi di dalamnya serta terus melakukan ibadah kepadaNya. Sebab tidak ada masalah yang tidak ada solusinya selagi kita bertaqwa dan memahami konsep tawakal yang sesungguhnya. Karena “Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS:Al-Kahfi:46)

Berkaitan dengan kehidupan dunia Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat.” (HR. Muslim)

Keluhan tak akan keluar dari bibir kita ketika kita benar-benar memahami bahwa kedudukan kita di dunia ini tak lain adalah sebagai seorang hambaNya yang sudah selayaknya meninggkatkan ketaqwaan serta mengembalikan setiap masalah hanya kepada sang pemberi masalah itu sendiri yakni Allah ‘Azza Wa Jalla. Dan mari kita merenungkan firman Allah pada surah Al-Imron:185 agar kita istiqomah didalam menjalankan ketaqwaan dan menjauhi segala ma’siat.

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surge, sungguh dia memperoleh kemenangan. Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

Terakhir mari kita memusahabah diri kita, sudahkah kita memamahi makna hidup sesungguhnya dan semoga Allah Ta’ala mengistiqomahkan kita di atas jalanNya yang haq. Allahumma Aamiin. Wallahu A’lam bishshowwab.


Jumat, 18 Mei 2012

WAHAI PEMUDA, MENIKAHLAH!



         Kian suram saja potret muda-mudi Islam saat ini. Betapa tidak. Coba kita perhatikan prilaku remaja saat ini. Era globalisasi yang tengah kita rasakan saat ini ,seolah menjadikan mereka lalai akan pentingnya menjaga hubungan dengan lawan jenis.

            Remaja yang harusnya sibuk menuntut ilmu, kini berputar haluan menjadi sibuk menjalin hubungan dengan lawan jenis atau yang biasa disebut dengan pacaran. Ya! dapat kita ketahui bersama bahwa saat ini pacaran sudah sangat membumi di masyarakat kita, bahkan sudah menjadi hal yang lumrah. Mirisnya lagi, seseorang yang tidak melakukan pacaran dikatakan kurang pergaulan dan lain sebagainya. Sudah selayaknya perkara ini menjadi renungan bagi setiap kita. Adakah Islam membenarkan hal ini?

            “Dan janganlah kamu mendekati zina; zina itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’:32)

            Jelas dan tegas sekali firman Allah di atas. Islam sangat melarang keras adanya aksi pacaran yang justru marak dilakukan oleh muda-mudi saat ini. Sebab mustahil pacaran tanpa zina. Perhatikan saja perilaku orang-orang yang berpacaran, mereka sering kali menghabiskan waktu berduaan, berpegangan tangan bahkan saling bermesraan padahal jelas tidak ada ikatan halal di antara mereka.

            “Janganlah seorang laki-laki menyendiri dengan seorang perempuan, melainkan setan menjadi pihak ketiganya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Hakim)

            Kembali pada firman Allah dalam surah Al Isra’ di atas, Allah tidak mengatakan “janganlah kamu berzina” tetapi “janganlah kamu mendekati zina”. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa jangankan berzina, mendekatinya saja kita tidak diperkenankan. Dan satu-satunya jalan yang paling mendekati zina adalah pacaran. Inilah sebab mengapa islam tidak membenarkan pacaran bagi yang belum menikah.


Anjuran Menikah
            Ternyata Islam juga menawarkan solusi untuk permasalahan di atas.  Islam menganjurkan untuk segera menikah bagi mereka yang merasa siap secara lahir maupun batin, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

            “Wahai kaum pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu, maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa dapat mengekangnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

            Kebanyakan dari kita enggan memilih menikah terlalu cepat dan kebanyakan alasannya adalah belum mumpuni dan ekonomi belum mencukupi. Tidak sepenuhnya salah jika kita beralasan demikian, tetapi ada yang perlu kita ketahui bahwa menikah adalah sunnah rasul yang dapat menyempurnakan setengah dari agama kita.
            “Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.” (HR. Baihaqi)

            Dan Allah juga menjawab tentang kekhawatiran kita terhadap rezeki ketika memutuskan untuk menikah, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Annur ayat ke 32.

            “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan, jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karuniaNya.”

            Lalu mengapa sebenarnya Islam menekankan pada kita untuk menyegerakan pernikahan. Beberapa point telah disebutkan di atas bahwa menikah adalah sunnah Rasul dan dapat membukakan pintu rezeki. Selain itu menikah juga dapat menjauhkan kita dari zina yang sunnguh setiap kita akan terjerumus di dalamnya.

            “Telah tertulis atas anak Adam nasibnya dari zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tidak bisa tidak. Maka kedua mata, zinanya adalah memandang. Kedua telinga, zinanya berupa menyimak dengarkan. Lisan, zinanya berkata. Tangan, Zinanya menyentuh. Kaki, zinanya berjalan. Dan zinanya hati adalah ingin dan angan-angan. Maka dibenarkan hal ini oleh kemaluan, atau didustakannya.’ (HR. Muslim)

            Tak dapat dibayangkan jika kita terus-terusan melakukan perzinahan yang terkadang tidak kita sadari. Bisa jadi tauhid kita telah rusak karena zina, sebab ketika kita sibuk memikirkan seseorang dari lawan jenis, kita menjadi lupa mengingat Allah. Dan posisi iman pun mulai tergantikan dengan sosoknya. Waktu yang harusnya dipergunakan untuk ibadah justru dipenuhi dengan maksiat zina, lambat laun hati pun menjadi tertutup. na’udzubillahi min dzalik. Lantas maukah kita disebut sebagai orang musyrik karena telah menduakan Allah dengan zina.

            “Wahai ummat Muhammad. Demi Allah saat hamba laki-laki berzina, dan saat hamba perempuan berzina, tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah ta’ala. Demi Allah, wahai ummat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan lebih banyak menangis daripada tertawa.” (HR. Bukhori dan Muslim)

            Maka menikahlah! Dan semoga dengannya hati menjadi terpelihara dari zina dan menjadi penyempurna dien dari setiap kita.

RESENSI BUKU




Judul               : Sebulan Hafal Al-Qur’an
Pengarang       : Ir. Amjad Qasim
Penerbit           : Zamzam
Tahun Terbit    :   Cetakan kedua, Agustus 2010
Tebal               : 132 halaman
ISBN               : 978-602-96193-9-3

JURUS JITU MENGHAFAL AL-QUR’AN

Bagaimana pun kesibukan dan kemampuan Anda, Anda adalah calon penghafal Al-Qur’an
(Ir. Amjad Qasim)

            Sebagian besar dari kita umat Islam pastilah memiliki keinginan yang kuat untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an, sebab ada sebuah hadits riwayat Baihaqi yang mengatakan bahwa orang yang paling mulia adalah mereka para penghafal Al-Qur’an atau biasa disebut dengan hafizh.

            Menghafal. Sungguh bukanlah perkara mudah bagi sebagian besar kita. Sering pula kita merasa bahwa menghafal itu adalah persoalan yang pelik lagi membosankan. Karena di balik keinginan kuat kita untuk bisa mengahafal, ada rasa pesimis yang mendalam. Pesimis akan kemampuan otak kita yang terbatas. Padahal Allah swt sudah menganugerahkan pada kita kapasitas otak yang luar biasa.

            Prof. Mark Ruzenzan dari Universitas California, bertahun-tahun melakukan riset tentang kapasitas yang dimiliki ingatan manusia. Ia menemukan bahwa kapasitas memori manusia sangat besar sekali dan tak seorang pun mampu menghitungnya. Dan otak manusia itu mampu melakukan 400 juta proses perhitungan setiap menit. Tidak hanya itu, otak manusia juga ternyata mampu memproses hingga 30 milyar informasi di setiap detik.

            Dari keterangan di atas, dapat kita ketahui bahwa kita manusia benar-benar sudah dianugerahkan otak yang istemewa, maka dapat kita simpulkan bahwa kesulitan dalam mengahafal bukanlah terletak pada kapasitas otak yang kita miliki, tetapi lebih cenderung pada niat dan kemauan kita dalam melaksanakannya.

            Buku ‘Sebulan Hafal Al-Qur’an’ hadir untuk memberikan solusi berbagai macam perkara sulitnya dalam menghafalkan Al-Qur’an. Dalam buku ini, Ir. Amjad Qasim membagikan jurus-jurus jitunya agar kita dapat menghafalkan Al-Qur’an dengan mudah dan dalam kurun waktu yang relatif singkat. Seperti yang telah di paparkan di atas. Niat adalah unsur utama dalam menghafal. Sebab segala perbuatan itu tergantung pada niatnya. Jadi, hal pertama yang harus kita perhatikan untuk dapat mengahafalkan Al-Qur’an adalah niat. Dan tentunya niat yang paling baik adalah niat untuk merengkuh ridha Allah dan memperoleh pahala dariNya.

            Setelah memperbaharui niat, kunci keduanya adalah sugesti akal. Mungkin kita kerap kali mendengar kalimat “Anda adalah apa yang Anda pikirkan.” Sama halnya dalam menghafalkan Al-Qur’anul karim. Kita seolah dituntut untuk bisa berpikir positif, agar segalanya terasa lebih mudah. Dimulai dengan menuliskannya pada selembar kertas. Tuliskan bahwa kita mampu untuk menghafalkan Al-Qur’an Dan selain menuliskannya maka kita juga harus mengucapkannya berulang-ulang. Semakin sering diulang oleh akal sadar, akan dibenarkan oleh akal batin. Itulah yang disebut dengan sugesti akal.

            Selanjutnya, hal yang terpenting lainnya adalah motivasi diri. Sebab semua orang dikendalikan oleh motivasi yang mereka tanamkan dalam diri mereka. Salah satu cara untuk meningkatkan motivasi diri adalah dengan memberikan hadiah pada diri sendiri. Misalnya ketika kita telah berhasil menghafalkan suatu surah, maka berilah dirimu hadiah berbentuk barang. Agar semangat tetap membara dalam jiwamu. Selain itu, ada baiknya pula bila kita meneladani seseorang yang bagi kita dapat memotivasi kita dalam mengahafal. Dan tak ada sosok teladan yang lebih baik selain Rasullah Saw.

            Setelah memantapkan motivasi diri, langkah selanjutnya adalah manajemen waktu dan menentukan target. Manajemen waktu adalah salah satu unsur penting dalam menghafal, maka dari itu kita harus pandai-pandai dalam mengatur waktu kita. Buatlahlah jadwal agenda kita setiap harinya, selipkan pula jadwal mengahafal dan jumlah ayat yang akan kita hafalkan dalam setiap harinya. Selain itu, tempat menghafal juga merupakan faktor pendukung dalam mengahafal, maka dari itu pilihlah tempat yang paling kondusif , karena kita akan mudah untuk mengahafal jika keadaan di sekitar kita mendukung.

            Dalam buku terbitan zamzam ini, penulis juga menegaskan bahwa unsur utama yang menentukan kita berhasil atau tidak dalam menghafal adalah keseriusan kita melakukannya. Diperlukan kosentrasi dan komitmen yang tinggi di dalamnya. Serta kita dituntut agar kita sering mengulang-ngulangnya dan hendaknya kita hanya menggunakan satu mushaf saja dalam menghafal, dengan begitu kita akan lebih mudah dalam mengingat.

            Menariknya, penulis juga menyajikan tips agar hafalan kita tak mudah hilang begitu saja. Salah satunya dengan mengaplikasikannya dalam sholat, gunakanlah ayat-ayat yang sudah kita hafalkan di dalam sholat, dan perbanyaklah sholat-sholat sunah. Karena dengan begitu secara otomatis kita pun akan sering mengulang hafalan kita. Dan agar hafalan kita tetap lekat dalam ingatan, maka perkuatlah ia dengan doa. Sebab tak ada sesuatu yang dapat terjadi tanpa seizinNya.

            Diharapkan setelah membaca buku ini, pembaca mendapatkan nutrisi baru yang dapat menyehatkan jiwa Anda calon penghafal Al-Qur’an. Bahasa yang ringan lagi sitematis, membuat buku ini mudah dipahami dan dipraktekkan dalam kehidupan. Semoga saya dan Anda dapat menjadi seorang hafizh.


RESEP AGAR ISTIQOMAH



“Yaa Muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘ala diinika” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

            Siapapun di antara kita pastilah ingin terus istiqomah di atas jalan yang haq. Namun permasalahan istiqomah memang bukanlah perkara yang mudah, butuh perjuangan ekstra untuk bisa mewujudkannya. Sebab kita manusia selalu lebih cenderung pada keburukan. Maka tak salah jika kita mengamalkan doa yang di ajarkan oleh Rasullah SAW di atas. Karena beliau pun senantiasa mengamalkannya, hal ini menunjukkan bahwa tak seorang pun dari kita dapat memastikan bahwa kita akan terus istiqomah di atas iman dan islam.

            Terkait masalah istiqomah, Rasullah SAW pernah didatangi oleh seorang lelaki, kemudian lelaki itu bertanya: “Wahai Rasullah, katakanlah kepadaku satu ungkapan tentang Islam, yang saya tidak memintanya kepada seorang pun kecuali kepadamu.” Rasullah SAW bersabda “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah’”. (HR. Muslim)

            Lagi-lagi kita kembali diingatkan bahwa istiqomah adalah perkara yang urgen. Lalu hal apa saja yang dapat membuat kita istiqomah hingga akhir hayat kita. Berikut jawabannya:

1.      Mengikhlaskan niat dan amalan hanya kepada Allah Ta’ala

Niat adalah suatu perkara yang harus senantiasa kita perbaiki dalam tiap perbuatan kita, karena niat dapat berubah sewaktu-waktu. Suatu amal itu bernilai baik atau buruk tergantung dari niatnya. Di sinilah kita sebagai seorang hamba dituntut untuk senantiasa memurnikan niat hanya untuk Allah ta’ala dengan tujuan agar mendapatkan ridho dariNya.
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

2.      Mengikuti sunnah Rasullah SAW

Yang dikatakan istiqomah adalah istiqomah dalam hal kebaikan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasullah SAW, jadi bukan disebut istiqomah jika kita tekun mengamalkan amalan yang tidak diajarkan oleh Rasullah SAW.

Dari Abu narjih, Al ‘Irbad bin sariyah Radhiallhu ‘anhu ia berkata: ‘”Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”, kami bertanya ‘Wahai Rasullah, nasehat itu seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami nasehat’, Rasulullah bersabda “Saya memberi nasehat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at meskipun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa di anatara kalian masih hidup niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal yang baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat. “ (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

3.      Menuntut ilmu syar’i dan sering duduk di Majelis ilmu

Keistiqomahan akan lahir apabila kita sering duduk di majelis ilmu bersama dengan orang-orang sholih. Sebab hanya di majelis ilmulah kita menemukan wajah-wajah para perindu surga, dengan begitu keinginan untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan akan hadir dengan sendirinya. Rasullah SAW bersabda:

“Apabila kamu melewati taman-taman surga, mak minumlah sampai puas”, para sahabat bertanya “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan taman-taman surga itu?” Rasul menjawab “Majelis-majelis ilmu.” (HR. Thabrani)

4.      Berteman dengan orang yang baik akhlaknya (sholih)

“Seseorang berada di atas agama sahabat karibnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapakah yang menjadi sahabat karibnya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Memilih teman dekat adalah prioritas utama dalam Islam, sebab seorang teman sangat berpengaruh untuk kita, maka hendaklah kita hanya berteman dengan orang-orang yang baik akhlaknya. Yang senantiasa bisa memberikan teladan yang baik pada kita, senantiasa mengingatkan kita akan kebaikan, karena merekalah sebaik-baik teman.

5.      Meninggalkan Ma’siat

Ketika melakukan suatu kejahatan (ma’siat) maka pada hakikatnya akan tercipta satu noda di hati kita. Dan noda tersebut akan terus bertambah seiring dengan seringnya kita melakukan ma’siat hingga lambat laun hati kita menjadi pekat. Demikianlah perumpaan orang yang berma’siat. Hati menjadi sulit menerima hidayah dan dengan begitu ia akan jatuh pada kefuturan sebab tak ada lagi lentera dalam hatinya. Maka salah satu kunci istiqomah adalah meninggalkan ma’siat dan bertaubat dengan sebenar-benar taubat kepada Allah ta’ala.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan sebenar-benar taubat, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS:66:8)

6.      Perbanyak Tahajud

Sepertiga malam adalah waktu paling berharga karena di saat itulah Allah turun ke bumi dan mengabulkan permohonan hambaNya yang sungguh-sungguh. Maka bruntunglah orang-orang yang senantiasa menegakkan sholat Tahajud karena ia akan menjadi suatu lentera yang dapat menjaga keimanan seorang muslim.

“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam”. (QS:51:17)

Dan mari kita berdoa semoga kita senantiasa menjadi hamba yang istiqomah di atas DienNya yang haq. Wallahu A’lam. 

RESENSI BUKU


Judul Buku      : Rahasia Pengobatan dengan Puasa
Pengarang       : Dr. Abdul Majid Ali Dariqoh
Tahun Terbit    : Juli 2011
ISBN               : 978-979-055-162-6
Tebal Buku      : 93 Halaman

HIDUP SEHAT DENGAN PUASA

            Puasa sudah tidak asing lagi di telinga kita. Anjuran untuk berpuasa tidak hanya terdapat pada ajaran Islam saja, tetapi hampir semua agama menganjurkan ritual yang satu ini. Hanya saja cara dan waktu pelaksanaan berbeda.

            Buku yang ditulis oleh Dr. Abdul Majid Ali Dariqah ini, membahas tentang keutamaan puasa, bukan hanya dari sudut pandang agama saja, melainkan dari segi kesehatan dan beberapa pandangan para ilmuan barat tentang puasa.

            Jika ditilik dari sudut pandang agama, maka puasa adalah ibadah wajib yang dikhususkan untuk kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Seorang bijak - Luqman Alhakim pernah mengatakan kepada putranya “Wahai anakku, jika perut telah penuh sesak, pikiranmu akan tidur dan nalar kebijaksanaan akan mandeg dan anggota tubuh akan berat untuk melaksanakan ibadah.” Dari kalimat ini dapat kita simpulkan bahwa jika kita terlalu banyak mengisi perut maka itu akan berakibat pada kesehatan ruhani kita, sehingga membuat kita malas. Lebih-lebih untuk melaksanakan ibadah. Inilah salahsatu bukti keutamaan puasa.

            Sayangnya sedikit sekali di antara kita yang menyadari akan pentingnya berpuasa. Padahal ketika kita berpuasa saat itulah fase istirahat bagi organ pencernaan. Sistem pencernaan kita bekerja siang dan malam untuk mencerna makanan yang masuk ke dalamnya. Bahkan tanpa kita sadari kita sering membebani pencernaan dengan mengisinya terlalu banyak. Akibatnya kita akan terserang penyakit mag. Maka tepat jika kita menjadikan puasa sebagai momen pengistirahatan bagi tubuh karena saat berpuasa, kerja organ pencernaan kita pun menjadi lebih ringan.

            Kalaupun pada awal puasa terasa lapar dan kadang-kadang terjadi gangguan urat saraf hingga merasakan lemas, akan timbul fenomena tersembunyi yang jauh lebih baik dan lebih penting setelah itu. Pada saat itu terjadi sirkulasi darah bersamaan dengan terjadinya pembakaran lemak yang tertimbun di bawah kulit lalu ia akan menggerakkan semua urat saraf dengan berbagai variabelnya yang khusus untuk menjaga agar tetap stabil dan berada dalam kondisi sempurna demi menjaga keselamatan fungsi dan kerja jantung. Demikian penjabaran oleh Alexis Karel salahsatu peraih nobel di bidang kedokteran. (Hlm. 5)

            Dalam buku ‘Rahasia Pengobatan dengan Puasa’ ini menyebutkan bahwa puasa juga bermanfaat bagi penderita obesitas. Urdun University mengadakan sebuah riset pengaruh puasa terhadap penurunan berat badan 137 orang Urdun yang telah balig. Peneliti menyimpulkan bahwa puasa Ramadhan merupakan salah satu metode yang baik untuk penurunan berat badan setiap tahun. Hal ini juga merupakan motode aman karena tidak menyebabkan kelemahan pada tubuh seperti yang terjadi pada proses diet lainnya.

            Bulan Ramdhan yang seperti kita ketahui bersama merupakan bulan wajib berpuasa bagi umat Islam adalah bulan yang sangat berkah karena di dalamnya ada proses latihan dan pendidikan yang luar biasa. Bukan hanya melatih kita untuk bersabar tetapi juga merupakan sarana untuk melatih diri dari hal-hal yang berbahaya. Merokok misalnya. Hasil penelitian menyebutkan adanya kolerasi kuat anatara merokok dan kanker paru-paru, kanker mulut, dan kanker laring serta penyakit lainnya. Maka dengan adanya puasa secara otomatis mereka para pecandu rokok dapat meminimalisir bahaya yang ditimbulkan oleh rokok, dan lambat laun disertai tekad yang kuat meraka akan terlepas dari rokok.

            Masih banyak keutamaan-keutaman puasa dari segi kesehatan lainnya yang sangat sayang jika Anda lewatkan. Karena buku ini hadir memberikan kiat-kiat hidup sehat dengan berpuasa kepada pembaca. Dan buku ini mengajak kita untuk merenungkan kembali tentang betapa nikmatnya bepuasa dengan demikian kita pun menjadi senang melakukannya bahkan menjadikannya sebagai suatu kebutuhan.

            “Berpuasalah kalian maka kalian akan menjadi sehat.” (HR. Ahmad)
           
            

HIDUP MULIA DENGAN ILMU



         Miris melihat kenyataan di lapangan saat ini. Semakin hari tingkat pengangguran di negeri ini semakin meninggi saja. Ijazah, titlel sarjana, gelar doktor, bahkan profesor sekalipun seolah tak mempunyai arti lagi di zaman globalisasi seperti saat sekarang ini.
            Lihatlah berapa banyak sarjana jebolan universitas unggulan yang akhirnya menjadi pengangguran, berapa banyak sarjana tunggang langgang mengantarkan surat lamaran dari satu kantor ke kantor lainnya. Belum lagi masalah meningkatnya kriminalitas seiring meningkatnya pengangguran. Di setiap sudut terjadi tawuran yang pelakunya tak lain adalah mahasiswa.
            Lalu bagaimana presfektif Islam dalam hal ini?
            Allah Swt. mewajibkan kepada umat muslim untuk menuntut ilmu.  Sebagaiamana hadits Rasullah SAW. “Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam.” (HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik).
            Sungguh Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu cara ampuh untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan cara menuntut ilmu. Coba kita perhatikan fenomena saat ini, sering kali kita temukan bahwa tujuan kuliah tak lagi sebagai wadah untuk menuntut ilmu tetapi sebagai ajang berburu gelar. Setiap orang berlomba menembus Perguruan Tinggi Negri (PTN) entah itu dengan cara yang benar maupun dengan cara yang diharamkan sekalipun. Namun pada kenyataaannya orang-orang lebih banyak memilih cara praktisnya saja. Yakni dengan tindakan penyuapan.Seleksi masuk yang digelar pun menjadi sebatas formalitas saja, bagaimana tidak. Jika mereka tak lulus dalam seleksi, mereka tinggal membayar berapa saja yang diminta. Perkara selasai. Universitas impian pun menjadi miliknya.
            Tetapi coba sejenak kita renungkan, bagaimana jadinya generasi yang lahir dari tindak kecurangan. Generasi seperti inilah yang menjadi pemicu meningkatkan pengangguran.
            Apakah sama antara orang yg berilmu dengan orang yang tidak berilmu.”  (QS. Az-Zumar:9)
            Senada dengan firman Swt di atas, jelaslah bahwa Allah tidak pernah memandang kepada gelar yang didapat seorang hamba. Tetapi Allah menilai seseorang berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Itulah penyebab mengapa Allah mewajibkan kita menuntut ilmu. Seorang yang berilmu tidak hanya mudah dalam mendapatkan pekerjaan tetapi juga mulia disisi Allah. Seperti firman Allah dalam Surah Mujadalah ayat 11:
            “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam mejelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
            Islam tidak menganjurkan kita untuk menuntut ilmu yang berkaitan dengan agama saja, tetapi juga mendalami ilmu-ilmu lainnya, seperti saints, teknologi, juga tentang kejiwaan sekalipun. Pun Islam memerintahkan kita untuk belajar dari mana saja, tidak hanya dari sekolahan, universitas, atau tempat-tempat formal jenis lainnya. Tetapi ilmu itu bisa didapat dari mana saja, bahkan seorang perampok pun dapat dijadikan guru. Dalam sebuah riwayat diceritakan, suatu hari Hasan Bashri dirampok oleh seseorang. Kemudian Hasan Bashri mengatakan “Ambillah semua hartaku yang kalian inginkan, tetapi jangan ambil bungkusan yang ada di pundakku ini,” karena penasaran perampok tersebut merampasnya. Kemudian tercecerlah buku-buku dari bungkusan tersebut, “Kenapa buku-buku ini begitu berarti bagimu?’ tanya perampok. Hasan Bashri menjawab “Buku adalah sumber ilmu.” Perampok pun berkata, “Ilmu itu di dada, bukan di dalam buku.” Terenyuhlah hati Hasan Bashri mendengarnya. Seorang perampok saja dapat memberikan pelajaran, bagaimana pula dengan kita yang memiliki hati dan pikiran yang lebih jernih. Lagi-lagi kuncinya adalah ilmu. Ibadah tanpa ilmu sudah pasti salah, tetapi ilmu saja pun tanpa pernah beribadah tak bernilai sama sekali.
            “Tuntutlah ilmu tetapi tidak melupakan ibadah. Dan kerjakanlah ibadah tetapi tidak boleh lupa pada ilmu.” (Imam Hasan Al-Bashri)
            Kadangkala kita kerap berpikir bahwa gelar sarjana adalah harga mati kesuksesan. Karena gelar dapat menjamin pekerjaan. Inilah kekeliruan yang fatal. Bukankah sudah jelas bahwa Allah telah menetapkan rezeqi pada setiap hamba-Nya. “Allah melapangkan rezeqi bagi hamba yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang membatasi baginya. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.29:62).
            Sekarang semakin jelaslah bahwa tugas utama kita adalah belajar dan menuntut ilmu karena Allah sangat memuliakan orang-orang yang berilmu, tentunya ilmu yang dapat memberikan rmanfaat kepada semua orang. “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina.” Demikian pepatah bijak mengatakan. Menuntut ilmu adalah kewajiban yang amat mulia. Semakin banyak ilmu kita maka semakin mudah pula jalan kita menuju jannah-Nya.
            Abu Hurairah r.a meriwayatakan dari Nabi Muhammad Saw, “Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Imam Muslim).
            Semoga kita termasuk orang-orang yang gigih dalam mencari ilmu, bukan gigih dalam mencari gelar. Jika orientasi kuliah adalah gelar, maka selamat menjadi pengangguran, tetapi jika orientasi kuliah adalah ilmu, mudah-mudahan Allah meninggikan derajat kita.